Sesuai anjuran pemerintah untuk Swasembada Padi, Jagung dan Kedele atau disingkat dengan PAJALE, pada malam hari ini kami akan membahas salah satu diantaranya, yakni tentang jagung. Jagung merupakan bahan pokok pakan ternak unggas yang mencapai 40 – 60 % dari total pakan yang diperlukan, Oleh karenanya yang kami pelajari adalah jagung pakan ternak bukan jagung manis atau jagung putih. Sehubungan dengan hal tersebut, STPP Magelang Jurusan Peternakan maupun Dinas Pertanian dan Pangan Magelangpun perlu mempelajari jagung, terlebih lagi mulai September Tahun 2018, STPP Magelang juga membuka Program Studi Teknologi Pakan Ternak, sehingga kami sebagai Dosen dan Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan dituntut untuk mengetahui hal tersebut. Sejak Tahun 2016, STPP Magelang bekerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian Mungkid telah mempelajari dan melakukan penelitian-penelitian tentang jagung hibrida. Namun sebagai nara sumber sebetulnya kami masih banyak kekurangannya, kami masih perlu banyak belajar (Selain membaca buku, kami juga menanam jagung untuk penelitian), Sehingga kami minta maaf bila ada pertanyaan dari Keluarga Fast yang tidak dapat terjawab. Karena itu, kami berharap ada pertanyaan-pertanyaan yang menantang dengan harapan kami akan melakukan kajian atau penelitian dimaksud. Inya Alloh pertanyaan yang tidak dapat terjawab saat ini, dapat kami jawab setelah kami melakukan penelitian. Beberapa kerjasama penelitian yang sudah dan sedang kami lakukan adalah:

  1. Th 2016 : Pengaruh Penyimpanan jagung terhadap daya tahan, hasilnya jagung dapat disimpan selama 10 bulan tidak susut bobot, tidak dimakan kutu dan kandungan aflatoksinnya rendah (39 ppm) itupun berasal sejak mulai simpan sementara Standart Nasional Indonesia (50 ppm)..
  2. Th 2017 : Pengaruh Detaseling terhadap produktifitas jagung. Ini sangat menarik sekali karena Dengan Detaseling dapat meningkatkan hasil panen tanpa klobot 22,82 %,
  3. Th 2017 : Pengaruh Defoliasi terhadap Produksi Jagung, dg defoliasi dapat meningkatkan bobot segar tongkol 19,77 %, bobot kering tongkol 22,82 % bobot pipilan kering biji per tanaman 21,00 %. 60 hst dengan cara bertahap sesuai daun tua.
  4. Th 2017 : Pengaruh Toping terhadap Produksi jagung, hasilnya batang jagung dapat dipotong pada umur 12 minggu, tidak mengganggu produksinya. batang dan daun dapat untuk pakan ternak dan lahan dapat ditanami lagi, 0,6 kg per batang
  5. Th 2017 : Pengaruh Pemupukan dengan urin thd produksi jagung à 100 ml tongkol kering à(157 à181 gr/tongkol)
  6. Th 2018 : Sedang berlangsung à Pengaruh Detaseling, Defoliasi, potong rambut dan toping terhadap Produksi Jagung
  7. Th 2018: Sedang berlangsung àPengaruh Tongkol tunggal dan tongkol ganda, jarak dalam baris, Potong rambut
  8. Th 2018 : Sedang berlangsung à Pemurnian jagung ungu

Dari pengalaman dan kajian atau penelitian yang telah kami lakukan, ternyata 1. biaya masih dapat ditekan dengan menggunakan urine sebagai pupuk kedua 2. Produktivitas masih dapat ditingkatkan dengan cara didetaseling dan defoliasi atau perompesan daun bawah tongkol 3. Umur minimal 84 hst dapat dilakukan pemangkasan batang, sebagai pakan ternak dan dapat ditanami polowijo lagi

Oleh : Ir. Nuryanto, MS dari STPP Magelang dan Slamet, A.Md Koordinator PPL Kec Mungkid

Leave a Reply
Your email address will not be published.

You must be logged in to post a comment .